Minggu, 02 Januari 2011

Kepribadian Muslim, Mukmin dan Muttaqin

Disusun oleh;
M. Alfian Nurul Azmi
(salah satu mahasiswa pondok HNS-UMS)
Kepribadian Muslim, Mukmin dan Muttaqin

A. Pendahuluan
Kepribadian Muhsin, Muslim, Mukmin dan Muttaqin Memiliki beberapa sifat-sifat atau kriteria-kriteria, yang mengandung hal-hal pokok dan prinsip dan pentingnya dalam bentuk acuan nilai dan norma hal ini Bersifat pengkayaan dalam arti memberi banyak khazanah untuk membentuk keluhuran dan kemuliaan rohani dan tindakan baik dengan ucapan dan perbuatan Aktual, yakni memiliki keterkaitan dengan runrutan dan kepentingan kehidupan sehari-hari.
Memberikan arah bagi tindakan individu maupun kolektif yang bersifat keteladanan.Ideal, yakni dapat menjadi panduan untuk kehidupan sehari-hari yang bersifat pokok dan utama. Rabbani, artinya mengandung ajaran-ajaran dan pesan-pesan yang bersifat baik yang membuahkan kesalihan. Akhlaq, yakni panduan yang mudah dipahami dan diamalkan oleh setiap muhsin, muslim, mukmin dan muttaqin.
Setiap umat yang berjiwa muslim, mukmin, dan muttaqin yang paripurna itu dituntut untuk memiliki keyakinan (aqidah) berdasarkan tauhid yang istiqamah dan bersih dari syirik, bid'ah, dan khurafat; memiliki cara berfikir sesuai dengan keperibadian tersebut; dan perilaku serta tindakan yang senantiasa dilandasi oleh tingkah laku dan untuk mencerminkan akhlaq al-karimah.
Dalam kehidupan di dunia ini menuju kehidupan di akhirat nanti pada hakekatnya Islam yang serba utama itu benar-benar dapat dirasakan, diamati, ditunjukkan, dibuktikan dan membuahkan rahmat bagi semesta alam sebagai sebuah manhaj kehidupan (sistem kehidupan) apabila sungguh-sungguh secara nyata diamalkan oleh para pemeluknya. Dengan demikian Islam menjadi sistem keyakinan, sistem pemikiran, dan sistem tindakan yang menyatu dalam diri setiap muhsin, muslim, mukmin dan muttaqin sebagaimana menjadi pesan utama risalah dakwah Islam.
Dan lebih jelasnya akan kami jelaskan dalam makalah ini tentangkepribadian tersebut. Namun akan tetapi dalam makalah kami ini hanya akan membahas kepribadian Muslim, mukmin dan muttaqin dalam Al-qur’an.



B. Pembahasan
1. Kepribadian Muslim
Sering orang menyebut Kepribadian muslim itu ialah cerminan pada orang yang rajin menjalankan ajaran agama Islam dari aspek ritual seperti shalat. Dan juga ada yang mengatakan kepribadian muslim itu terlihat dari sikap dermawan dan suka menolong orang lain atau aspek sosial. Mungkin ada yang berpendapat kepribadian muslim itu terlihat dari penampilan seseorang yang kalem dan baik hati.
Jawaban di atas hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
Dan didalam Alqur’an surat Ali- Imran ayat 52 dijelaskan, Allah SWT berfirman:

                •     

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim yang berserah diri.” (Ali-Imran: 52)

Dalam tafsir al-Misbah ditafsirkan bahwasanya: Sebagian bani Israil tidak menyambut ajakan-ajakan itu. Maka tat kala isa merasakan, yakni mengetahui dengan pengetahuan yang demikian jelas, seperti jelasnya pengetahuan yang berdasar indera, adanya keingkaran terhadap dirinya sebagai rasul dari sebagian mereka, dan bahwa mereka akan menghalanginya menyebarkan dakwah, berkatalah dia, “siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk bersama-sama berjalan menuju jalan yang mengantar kepada Allah? “ Para hawariyyin, yakni sahabat-sahabat beliau yang setia, menjawab, “ Kamilah penolong-penolong (Agama) Allah yang engkau cari itu.
Kami akan berjuang bersama engkau karena kami beriman kepada Allah: Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak Beranak dan diperanakkan. Konsekuensi kepercayaan ini mengharuskan kami membela agama-Nya, maka karena itu kami siap berjuang, dan saksikanlah kelak di hadapn Allah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim yang berserah diri, patuh mengikuti perintah Allah dan perintah Rasul-Nya”, dan para pegikut Isa as. Pun mengaku bahwa mereka adalah orang-orang muslim.
( ) Al-hawariyyun terambil dari kata yang bermakna sangat putih, atau cahaya murni. Sahabat-sahabat Nabi Isa as. Dinamai demikian karenahati mereka sangat tulus, putih, bersih, tidak ternodai oleh kekotoran, dan cahaya keimanan yang amat murni tampak pada waah mereka.
Dan disebutkan dalam Ayat lain: dalam al-Qur’an Surat Al-mu’minun : 57-71

•                        •  •            

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati Karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Qs.Al-Mu’minun: 57-61)

Ada beberapa poin yang dapat disimpulkan dari ayat diatas: yang pertama: mereka orang-orang muslim takut akan azab Allah SWT jadi berhati-hati. Kedua: dan orang-orang muslim beriman kepada ayat-ayat Allah SWT. Ketiga: orang-orang muslim tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Keempat: orang-orang muslim menyakini akan adanya hari akhir atau hari kemudian. Dan yang Kelima: orang-orang mukmin bersegera untuk mendapat kebaikan


2. Kepribadian Mukmin
Adanya kualitas manusia dalam suatu kelompok tertentu didasari oleh kualitas kepribadian yang dimilikinya. Ketika kita berfikir tentang kepribadian seseorang, mungkin yang terbesit dalam pikiran kita adalah kepribadian yang merupakan kesan yang timbul dari masing-masing individu terhadap orang lain atau kesan paling penting yang ditinggalkan individu lain. Misalnya memandang manusia sebagai seorang yang agresif, sensitif, ramah, santun dan sebagainya, disnilah peran kepribadian seorang mukmin, bagaimanakah mereka harus menempatkan kepribadiannya.
Sesuai yang terkandung dalam al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 122: Allah berfirman.
             
“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) Karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (Qs. Ali-Imran: 122)
Dalam tafsir Al-Mishbah dijelaskan bahwasanya: Allah akan menolong siapa saja orang-orang yang beriman kepadanya. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal, tidak kepada selain-Nya, tidaka juga kepada perlengkapan dan personil, apalagi kalau personil itu terdiri dari orang-orang munafik.
Dan juga penggalan terakhir ayat ini, menurut al-Biqa’i, lebih baik dipahami mengandung pesan sebagai berikut: “Allah adalah penolong kedua golongan itu, karena mereka beriman dan berserah diri kepada-Nya, dan bukannya kehendak mundur itu bersumber dari tekad mereka. Mereka bahkan menjadikan Allah sebagai penolong dan berserah diri kepada-Nya, guna mengukuhkan kamu dan menghindarkan kelemahan atasmu, karena itu hendaklah semua kaum mukminin percaya dan berserah diri kepada-Nya agar mereka semua pun memperoleh pertolongan-Nya”.
Agaknya makna inilah yang merupakan pujian buat mereka yang menjadikan kedua golongan itu merasa berbahagia dengan turunnya ayat ini, karena dengan tegas ayat ini menyatakan bahwa Allah swt. Adalah penolong mereka. Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
Ada juga Ulama yang memahami firman-Nya: padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu, merupakan kecaman kepada golongan itu. Mereka dikecam karena bermaksud meninggalkan medan perang, padahal seharusnya mereka tau persis bahwa Allah akan membantu orang-orang mukmin dan tentu saja membantu mereka juga kalau mereka benar-benar mukmin.
Rasulullah Saw menyebutkan ciri-ciri mukmin yang mengagumkan sehingga hal ini harus kita miliki, beliau bersabda:
“Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mukmin. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia tertimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya”, (HR. Ahmad dan Muslim).
Dari hadits di atas, ada tiga sifat yang harus kita miliki agar pribadi kita sebagai mukmin bisa menjadi pribadi yang mengagumkan, dan situasi serta kondisi sekarang amat menuntut lahirnya pribadi-pribadi seperti ini.
Pertama, Berorientasi Pada Kebaikan. Pada dasarnya, setiap manusia senang pada kebaikan dan mereka pun telah mengenalnya, karenanya Al-Qur’an menyebutkan satu istilah untuk kebaikan yang disebut dengan ma’ruf.
Namun meskipun manusia sudah mengetahui tentang kebaikan, ternyata mereka masih belum mau juga berbuat baik, karenanya harus ada upaya memerintah manusia untuk melakukan kebaikan, inilah yang disebut dengan amar ma’ruf.
Manakala manusia telah menjadi mukmin yang sejati, maka manusia akan sangat senang melakukan kebaikan, dia akan memberi kontribusi dalam kebaikan bahkan berlomba-lomba dalam kebaikan dan selalu ingin menjadi yang terbaik, ini semua disadari karena hidup di dunia hanyalah salah satu fase kehidupan, sedangkan fase akhirnya adalah kehidupan akhirat, Allah SWT berfirman:
               
beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,” (Qs. Al-Mu’minun:1-3)
Ciri kedua dari mukmin yang mengagumkan adalah selalu Bersyukur Atas Kesenangan yang diperolehnya. Bersyukur kepada Allah SWT atas kesenangan, kebahagiaan dan kenikmatan yang diperoleh merupakan sikap yang sangat mulia.
Hal ini karena dengan begitu, seorang mukmin menyadari bahwa segala kenikmatan merupakan anugerah atau pemberian dari Allah Swt. Manusia memang seharusnya menyadari bahwa usaha yang dilakukannya sebenarnya tidak seberapa besar, tapi Allah Swt memberikan balasan dengan balasan yang besar.
Ketiga yang merupakan ciri mukmin yang mengagumkan adalah Bersabar Atas Kesusahan. Sabar atas segala musibah atau kesusahan yang menimpa merupakan ciri yang melekat pada pribadi orang yang beriman, karenanya seorang mukmin itu menjadi manusia yang mengagumkan.
Kesabaran seorang mukmin dalam menghadapi kesusahan membuatnya menjadi tidak mudah berputus asa, sesulit apapun keadaan yang menimpa dirinya, dia tetap optimis akan ada hari esok yang lebih baik, baginya yang penting adalah berusaha dan bertawakal kepada Allah Swt.

3. Kepribadian Muttaqin

Manusia adalah ciptaan Allah SWT yang sangat istimewa dimuka bumi. Kejadiannya diumumkan secara khusus dimuka para malaikat dan dia diberi Jabatan sebagai khalifah dimuka bumi.
Keistimewaan manusia menurut firman Allah SWT antara lain: Struktur tubuh yang kokoh dan seimbang, lincah dan kuat. Disamping itu yang khas adalah Ruh insaniah danm jasmaniah. Perpaduan ruh insaniah dan jasmani ini akan membentuk jasad yang serasi dan harmonis diberi tanggung jawab amanat agar mengamalkan agama Islam dengan sungguh-sungguh dan Ikhlas.
Manusia lahir dalam keadaan suci dan serba kekurangan tidak membawa harta benda, serta tidak mengetahui suatu apapun karena belum bisa mendengar, melihat dan membaca, awal dari perkembangan kehidupan manusia berada pada potensi rochani.
Dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat: 22, dijelaskan tentang kepribadian orang Islam yaitu Muttaqin.
                 
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan (Muttaqin), Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan Hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman: 22).

Setelah menampakan keheranan dan keanehan menyangkut sikap para pendurhaka itu, ayat diatas bagaikan menyatakan: demikianlah, siapa yang membantah keesaan Allah atau menolak agama-Nya, maka dialah yang tidak memiliki sedikit pegangan pun, dan siapa pada masa kini dan datang yang menyerahkan secara ikhlas wajahnya yakni seluruh hidup dan totalitasnya kepada Allah, dan mengakui keesaan-Nya sedang dia muttaqin yakni selalu berbuat baik, maka sesungguhnya ia htelah berpegang teguh pada buhul tali yang kukuh. Orang itu akan kembali kepada Allah dalam keadaan selamat dan Allah akan menganugerahkan untuknya kesudahan yang baik. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.
Wajah adalah bagian termulia dari jasmani manusia. Ia adalah gambaran identitas, sekaligus menjadi lambang seluruh totalitasnya. Wajah adalah bagian termulia dari tubuh manusia yang tampak. Kalau yang termulia telah diserahkan atau tunduk, maka yang lain telah turut, inilah yang menggambarkan bahwa dia memiliki kepribadian muttaqin (berbuat baik). Barang siapa yang menyerahkan wajahnya secara tulus kepada Allah, dalam arti ikhlas beramal dan amal itu adalah amal yang baik, maka keadaanya seperti yang dijelaskan ayat diatas.
Ayat ini merupakan perumpamaan keadaan seseorang yang beriman. Betapapun sulitnya keadaan, walau ibarat menghadap kesuatu jurang yang amat curam, dia tidak akan jatuh binasa karena dia berpegang dengan kukuh pada seutas tali yang amat kukuh. Bahkan seandainya ia terjerumus masuk ke dalam jurang itu, ia masih dapat naik dan ditolong, karena ia tetap berpegang pada tali yang menghubungkannya dengan sesuatu yang diatas, bagaikan timba yang dipegang ujungnya, yaitu timba yang diturunkan guna mengambil air lalu ditarik keatas. Demikian juga seorang muttaqin yang terjerumus ke dalam kesulitan. Memang dia turun atau terjatuh, tetapi sebentar lagi dia akan keatas membawa air kehidupan yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain.
Ciri-ciri orang yang muttaqin itu ada 3 (tiga) :
1. “Yunfiquuna fissarrai wa dharraa “ yaitu orang yang menafkahkan hartanya diwaktu lapang dan sempit. Jika diwaktu lapang mungkin akan lebih mudah untuk menafkahkan harta, gaji besar dan ketika mendapatkan keuntungan dalam berniaga serta kesenangan lainnya. Tetapi Allah SWT juga memerintahkan agar kita menafkahkan harta diwaktu sempit dimana terkadang orang miskin ini hanya bisa meminta-minta tetapi tidak mau memberi, padahal ciri manusia muttaqin adalah meskipun miskin, kita tetap menafkahkan harta, mungkin kadarnya saja yang berbeda antara ketika lapang dan sempit. Allah SWT berfirman:

         ••     
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”. (Q.S. Ali-Imran:134)

2. “Wal khadziminal ghaidza “ yaitu orang yang bisa menahan amarahnya. Allah SWT berfirman:
        •  •      
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-A’raf: 56)



3. “Wal a’fiina ‘aninnass” yaitu orang-orang yang bisa memaafkan kepada manusia, memaafkan manusia itu sangat sulit. Ketika seseorang berbuat salah kepada kita kadang-kadang menjadikan hati kita dongkol dan susah untuk memaafkan. Allah SWT berfirman:
               
“(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang Telah kami rezkikan kepada mereka.” (Q.S. Al-Hajj: 35).




C. Penutup
Seseorang disebut memiliki kepribadian Muslim, Mukmin dan Muttaqin apabila sikap, prilaku, penampilan dan tindakannya dalam bimbingan terhadap Tuhannya. Agar terwujud kepribadian Muslim, Mukmin dan Muttaqin, hendaknya seorang yang memilki kepribadian tersebut harus bersungguh-sungguh mempercayai-Nya dengan segala kesempurnaan keagungan, keperkasaan dan keindahan perbuatan dan kebijaksanaan-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya serta dzat_Nya.
Indikator-indikator yang tercakup dalam pembentukan kepribadian ini antara lain iman dan takwa; penanaman nilai-nilai keimanan, keislaman dan keihsanan dalam diri individu, serta membangun model teladan yang baik. Sedangkan menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib yaitu pertama, menjadi manusia paling baik disisi Allah swt.; kedua, menjadi manusia paling buruk dalam pandangan dirimu; ketiga, menjadi manusia biasa diantara atau dihadapan orang lain. Adapun hal-hal yang harus biasa dilakukan dalam pembentukan kepribadian seseorang adalah pembiasaan dalam berfikir positif, pembiasaan bersikap dan berpenampilan santun atau terpuji, dan pembiasaan berperilaku terpuji.

DAFTAR PUSTAKA
Depag RI. 1993. Al-qur’an dan terjemahannya. Gema Risalah Press: Bandung.
Shihab, M. Quraish. 2000. Tafsir Al-mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati; Ciputat. Volume 2.

_________________. 2000. Tafsir Al-mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati; Ciputat. Volume 11.

http:// www. dakwatuna.com

1 komentar: